Sang Juara Piala Afrika dan Generasi Emasnya

Sang Juara Piala Afrika dan Generasi Emasnya
Sang Juara Piala Afrika dan Generasi Emasnya

Sang Juara Piala Afrika dan Generasi Emasnya – Senegal, ya Senegal juara baru Piala Afrika pada edisi ke 33 yang digelar di negara kamerun. Sebelumnya Senegal pada tahun 2002 pernah menggemparkan jagat dunia sepak bola Afrika bahkan dunia, dengan berhasil lolos ke putaran final piala dunia untuk pertama kalinya. Mereka berada di group A bersama Uruguay, Denmark, dan juara bertahan yaitu prancis kala itu.

Banyak pihak meragukan Senegal dapat berbicara banyak di ajang piala dunia, apalagi satu group dengan prancis yang menyandang gelar juara bertahan. Namun siapa sangka pada pertandingan pertama group A yang mempertemukan Senegal melawan Prancis. Senegal mampu menundukkan Prancis dengan skor 1-0.

Setelah mampu membuktikan bahwa Senegal mampu membungkam banyak kritik yang datang, performa Senegal terus naik dengan mampu menahan dua pesaing lainnya yaitu Denmark dengan skor 1-1, dan Uruguay dengan skor 3-3.

Dengan hasil ini sudah bisa membawa Senegal untuk lolos ke fase knock out, namun pada babak perempat final harus tersingkir karena mengalami kekalahan saat melawan turki. Namun Senegal tidak bisa dipandang sebelah mata, kini Senegal datang ke Piala Afrika 2022 dengan bekal sebagai runner up Piala Afrika 2019 lalu.

Proses Yang Di Lewati Senegal

Senegal perlu proses yang cukup panjang untuk menuai hasil yang manis yaitu juara Piala Afrika tahun ini. Faktor kemisikinan adalah salah satu yang membuat sulitnya perkembangan yang ada di Senegal. Pada tahun 2000 dibangunlah beberapa fasilitas sepakbola untuk wadah bagi anak muda disana, dan sekaligus memberi harapan bagi Senegal untuk masa depan.

Baca juga:  Tujuan PSSI Naturalisasi Pemain Eropa

3 tahun berselang, banyak klub eropa yang tertarik dengan bakat yang dimiliki oleh para pemain didikan asal Senegal, salah satunya adalah klub dari Prancis yaitu FC Metz. Seperti Sadio Mane, dan P. Cisse adalah pemain-pemain hasil didikan akademi yang dibangun di Senegal dan bakatnya yang diminati oleh FC Metz.

Dengan pembinaan usia muda yang baik yang dilakukan di Senegal menjadi modal dasar Senegal di putaran final Piala Afrika di edisi ke 33 kali ini. Setelah 17 tahun menunggu, Senegal datang dengan kekuatan yang tidak bisa dianggap remeh, setelah 2019 lalu menjadi finalis dan runner up setelah kalah dari Aljazair dengan skor tipis 1-0.

Baca juga: Produk Dalam Negeri Terbaik, Lokal Brand Sepatu Berkualitas

Dengan materi pada tahun 2022 bisa dikatakan generasi emas, dengan diperkuat beberapa bintang yang berkarir di eropa. Senegal memang tidak mempunyai history panjang seperti Mesir hingga Kamerun, namun Senegal sekarang tidak bisa dianggap remeh.

Senegal memulai Piala Afrika dengan baying-bayang kekalahan pada laga final Piala Afrika tahun lalu saat melawan Aljazair, namun Senegal datang dengan motivasi untuk menjadi juara tahun ini. Dengan membawa pemain-pemain bintang seperti Sadio Mane dan kiper Chelsea yaitu Mendy, dan Koulibally dari Napoli dan masih banyak lagi pemain top yang berkarir di eropa, selain itu juga diperkuat dengan pemain-pemain berbakat dari Afrika.

Baca juga:  Indonesia Tidak Merespon Undangan Turnamen Toulon

Senegal yang tergabung di dalam group B bersama Zimbabwe, Guinea, dan Malawi, diperediksi akan mudah untuk melewati babak fase group. Selain itu memang Senegal pada edisi kali ini diunggulkan untuk menjadi juara pada edisi kali ini.

Senegal lolos ke babak 16 besar hanya dengan menciptakan 1 gol, bisa dibilang tim yang paling beruntung. 1 gol itupun diciptakan melalui titik putih yang dieksekusi oleh Sadio Mane saat melawan Zimbabwe, 2 laga lainnya hanya berakhi imbang 0-0 saat melawan Guinea dan Malawi.

Senegal lolos ke babak 16 besar sebagai juara group dengan unggul 1 poin lebih banyak dari Guinea yang berstatus sebagai runner up group. Timnas Senegal berhasil keluar sebagai juara Piala Afrika, hal ini sebagai sejarah karena ini adalah kali pertama Senegal menjadi juara Piala Afrika sepanjang sejarah sepak bola disana.

Lagi-lagi Senegal bisa dikatakan beruntung karena pada babak 16 besar hingga semifinal Senegal selalu bertemu dengan tim yang memang tidak diunggulkan, barulah pada babak final Senegal bertemu dengan tim kuat yaitu Mesir yang diperkuat oleh rekan satu tim Sadio Mane di Liverpool yaitu M. Salah. Senegal mampu mengalahkan Mesir lewat adu penalty. Pada babak adu pinalti ini 3 penendang dari Mesir gagal mengeksekusi pinalti dengan baik, sehingga Senegal mampu keluar sebagai juara untuk pertama kalinya.

Pembuktian E. Mendy

Senegal menjadi juara dengan diperkuat beberapa pemain bintang, salah satunya adalah kiper yang membela klub liga inggris yaitu E. Mendy. Lahir dari keluarga yang miskin, sempat ingin pension dini. Namun tidak menyerah begitu saja, Mendy lalu di kontrak salah satu klub liga prancis dan mendapat perhatian dari Chelsea yang tertarik untuk merekrutnya.

Baca juga:  Persiapan Indonesia Dan Calon Lawan di Piala Dunia U-20

Baca juga: Tips Membangun Kekompakan Dengan Pasangan

Baru satu tahun bergabung dengan Chelsea Mendy mampu menggeser kiper utama saat itu yaitu Kepa. Selain itu Mendy mampu membawa Chelsea keluar sebagai juara liga champions. Penampilan apik Mendy ternyata belum bisa merebut penghargaan kiper terbaik, banyak pihak menuding bahwa kegagalan Mendy menyabet gelar kiper terbaik karena ia berasal dari Afrika.

Setalah itu Mendy mampu menyabet gelar kiper terbaik eropa, namun tidak masuk  starting line up terbaik. E. Mendy membuktikan kemampuanya dengan membawa Senegal menjuarai Piala Afrika dengan mampu menepis tendangan penalty dari Mesir. E. Mendy juga menyabet gelar sebagai kiper terbaik di ajang Piala Afrika edisi ke 33 kali ini.

Dapatkan info terbaru dari Bacapos.com via email. Masukkan email anda

Bagikan :
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Tulis komentar

scroll to top

Bacapos

Dapatkan informasi terbaru via email

Jangan lewatkan informasi terbaru lainnya dari Bacapos.com