Mengais Asa Garuda Di LEG 2 AFF Suzuki CUP 2020 Singapura

Mengais Asa Garuda Di LEG 2 AFF SUZUKI CUP 2020 Singapura
Mengais Asa Garuda Di LEG 2 AFF SUZUKI CUP 2020 Singapura

MENGAIS ASA GARUDA DI LEG 2 AFF SUZUKI CUP 2020 SINGAPURA

Indonesia kalah telak dalam leg 1 melawan Thailand dengan skor 4-0, asa untuk juara itu masih ada walaupun sangat sulit, perlu kerja keras, keberuntungan, perlu dewi fortuna memihak kepada tim Indonesia. Tetapi ini sepak bola, di dalam lapangan semuanya bisa terjadi selama 90 menit. Harapan masyarakat Indonesia yang sangat besar untuk bisa menjadi juara untuk pertama kali dalam sejarah turnamen paling bergengsi se-asia tenggara ini, bisa jadi harapan yang sangat besar ini menjadi beban para pemain pada leg pertama, karena mayoritas tim ini di isi oleh pemain under-23, dan hanya beberapa pemain yang berumur 30 tahun ke atas yaitu Fachrudin Ariyanto dan Victor Igbonefo.

Pengalaman dan kematangan di sini berbicara, pemain Indonesia masih minim pengalaman dalam menghadapi laga final, bahkan banyak pemain yang baru main pertamakali di partai final, yang ke dua kematangan, tim ini kembali lagi diisi pemain muda yang masih minim pengalaman, baru bermain 1 musim dalam laga dan itupun tidak regular, itulah beberapa  factor mendasar yang mungkin menjadi Indonesia kalah dari Thailand pada leg pertama. Terlepas dari semua itu memang kita akui bahwa Thailand berada di atas kita satu level, terlihat dari bagaimana cara bermain Thailand, bermain secara kolektif, bermain tenang, transisi menyerang ke bertahan sangat bagus, dan akurasi pasing sangat tinggi mencapai sekitar  80% ke atas.

Baca juga:  Mengenal Ajang Paling Begengsi Sepak Bola Di Benua Afrika

Ulasan Leg 1

Pada leg pertama ini Indonesia menggunakan formasi 4-2-3-1 pada babak pertama dengan 4 bek dibelakang dan menempatkan 2 gelandang bertahan yaitu Irianto dan Dewangga, walaupun pada penerapannya dilapangan berubah menjadi 5-4-1 dengan menarik Dewangga sebagai bek tengah dan menyisakan Irianto sebagai gelandang bertahan, namun sangat disayangkan dengan gol cepat dari Thailand yang di cetak oleh chanatip pemain yang bermain dengan posisi no 10 di Thailand. Gol cepat yang membuat Indonesia bermain kurang tenang, salah pasing, control bola sering lepas yang membuat Thailand semakin nyaman dalam menguasai bola. Banyak peluang yang diciptakan oleh Thailand namun penampilan gemilang dari Nadeo Argawinata yang mampu menahan berbagai serangan dari Thailand. Indonesia sebenarnya mendapat beberapa peluang namun tidak bisa dikonversikan menjadi gol.

Pada babak ke dua Indonesia mencoba untuk keluar dari tekanan, berusaha untuk mengalirkan bola selama mungkin, dengan memasukkan beberapa pemain langsung yaitu Kadek Agung, Evan Dimas, dan Elkan Baggot, Egy dan Rumakiek di pertengahan babak ke dua namun belum bisa mengubah situasi dilapangan, awal babak ke dua Indonesia menggunakan formasi 4-4-2 mampu menguasai pertandingan namun dengan menarik Irianto yang digantikan Evan Dimas membuat  Indonesia kehilangan seorang yang bertugas untuk  memutus  serangan lawan, Dewangga ditarik ke bek kiri untuk mengisi tempat dari  Edo  Febriansyah yang ditarik keluar, dan transisi Indonesia saat menyerang ke bertahan sangat buruk, lini ke dua selalu telat untuk membantu sehingga pemain lawan langsung berhadapan dengan bek Indonesia, dan akhirnya Indonesia sampai full time kalah dengan skor 4-0.

Baca juga:  Barcelona vs Atletico Madrid, Debut Manis Adama Traore

Preview leg 2

Asa untuk juara masih ada, tetapi kita harus realistis, kita harus legowo bahwa yang juara adalah Thailand pada tahun ini karena memang untuk mengejar devisit  4 gol apalagi lawan Thailand sangat sulit, walaupun diatas lapangan semuanya bisa terjadi. Untuk leg ke dua Indonesia akan menggunakan pendekatan apa, itu ranah pelatih, tapi mungkin Indonesia pada leg ke dua akan bermain menyerang mau tidak mau, karena dengan mengejar devisit 4 gol, pemain Indonesia harus main dengan enjoy, bermain dengan lepas tanpa beban, dan nothing to lose. Indonesia harus main tenang seperti awal babak ke dua, bermain dari kaki ke kaki, selain itu perlu evaluasi saat transisi dari menyerang ke bertahan, lini tengah Indonesia selalu telat dalam membantu pertahanan, koordinasi lini pertahanan Indonesia sangat buruk baik pada babak pertama maupun babak ke dua, akurasi pasing dan control bola ini yang perlu ditingkatkan. Walaupun untuk jadi juara pada tahun ini sangat sulit tetapi berikanlah permainan terbaik pada pertandingan terakhir pada final leg kedua nanti untuk mengobati kekekcewaan masyarakat Indonesia yang berharap untuk bisa menjadi juara.

Kesimpulan

Tim ini dibentuk untuk prospek jangka panjang, STY mengatakan Indonesia mampu berbicara banyak dalam hal sepak bola setelah 10 tahun mendatang  dengan pemain-pemain muda ini, keberanian STY dengan memotong satu generasi di atasnya perlu diapresiasi. Ini bukan akhir dari segalanya, masih banyak turnamen yang perlu kita hadapi, tim ini baru setengah matang, jadi jangan terlalu menaruh harapan besar terhadap tim muda kita, jalani proses yang berlangsung.

Baca juga:  Rekor Tak Terkalahkan Arema Fc Di BRI Liga 1 Indonesia

Tinggalkan Balasan

scroll to top

Bacapos

Dapatkan informasi terbaru via email

Jangan lewatkan informasi terbaru lainnya dari Bacapos.com