Memutus Rantai Kebaikan Sungguh Tak Baik Bagimu

Memutus Rantai Kebaikan
Memutus Rantai Kebaikan

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ أَحَبُّ الْعَمَلِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي يَدُومُ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ

Qutaibah menuturkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah

radhiyallahu’anha dia berkata“Amal yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

adalah yang dikerjakan secara terus menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari )


Memutus rantai kebaikan,  itu seprti merusak tanaman yang hendak berbuah. apakah kita tega merusak tanaman sedang tumbuh subur ? apakah kita tega menyiram pohon mangga dengan minyak tanah? dengan perumpamaan seperti itu, setidaknya kita lebih berhati-hati dalam bertindak, sebab bisa saja tanpa kita sadari justru kita sendiri dengan santainya memutus rantai kebaikan.

itu banyak terjadi karena banyak hal di antaranya:

Pertama: kita tak lagi telaten (konsisten) merawat amalan kecil. kita pikir tidak ada manfaat yang besar jika masih mengurusi amalan-amalan kecil, padahal, hal-hal yang besar sangat sulit kita capai bila kita sendiri mengabikan sesuatu yang kecil. padahal Rasulullah s.a.w , menegaskan, senyum kita kepada orang lain adalah sedekah, menyingkirkan batu, duri, pecah kaca dijalan juga sedekah. tampak sepeleh bukan? tapi apakah sudah melanggengkannya?

Rasulullah s.a.w, bersabda:

                                                                                                                                                                                          لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيقٍ  
Jangan sekali-kali engkau meremehkan perbuatan baik sekecil apapun, meskipun perbuatan itu berupa engkau menemui saudaramu dengan wajah yang ceria (dengan senyum) (HR. Muslim)

Baca juga:  Cara Menjadi Muslim Good Looking Versi Rasulullah

maka jangan remehkan hal-hal kecil. Bukankah sebuah garis adalah gabungan dari titik? dengan merawat kebiasaan baik meski sangat sepele, itu akan menjadi jalan pembuka rezeki dan keberuntungan.

Kedua: salah satu perusak keharmonisan hidup itu bila kita memutuskan kebaikan orang tua. ini sayang sekali. ayah dan ibu sudah begitu baiknya menjalankan peran mereka  sebagai orang tua, sedangkan kita tidak membalasnya dengan kebikan sebagai  anak. maka akan kacau kalau kita tidak bisa mengimbangi kebaikan orang tua, meski memang kita tidak bisa membalas semua jasa-jasanya. setidaknya kita merawat keharmonisan hubungan dengan mereka agar tidak ada percikan kebencian, masih terjalinya kasih sayang, dan berupaya keras menghapus dendam.

sebab sehebabt apapun kita di mata orang tua lain, kita tetaplah anak di hadapan orang tua. bisa saja ada istilah mantan bos, mantan anak buah mantan kariyawan, tetapi tidak ada istilah mantan anak. sampai kapanpun juga anak tetaplah anak, orang tua tetapalah orang tua, itu tidak selayaknya membuat kita membenci mereka. sekali saja kita berani membantah orang tua apalagi sampai membenci dan dendam, maka terputuslah rantai kebaikan itu. dan buruknya, kitalah yang memutusnya. jadi jangan sampai kita memutus rantai kebaikan dengan orang tua.

Ketiga: merawat tanaman kebaikan yang sudah di tanam orang tua, lalu kita terusakan. sebab ada kebajikan buruk, seseorang anak kiyai justru menjadi gali (preman). tetapi anak gali justru akhirnya jadi kiyai. tentu warisan dari orang tua yang baik-baik kita terusakan, dan yang buruk kita tinggalkan. sebab di tangan kitalah nama baik keluraga  dan nama baik orang tua sangat di tentukan.

Baca juga:  Cara Mengatasi Stres Menurut Islam Wajib Diamalkan

ada sebuah cerita di kampung kami, ada seorang pedagang yang sangat kaya raya. beliau rajin sekali tiap bulan menyumbang untuk mesjid, atau kapan pun mesjid butuh uanag untuk acara pengajian, beliau siap membiayai. apalagih untuk pembagunan masjid beliau selalu terdepan dalam bersedekah. segala kereluan masjid pun dipenuhinya.

satu hal yang paling has dari beliau, setiap malam takbiran idul fitri, anak-anak akan mendapatkan amplop berisi uang. setelah shalat iysa, beliau akan berdiri lalu anak-anak yang sedari tadi menanti langsung menghampiri beliau,. satu persatu mereka mendapatakan uang dan mencium tangan beliau. saya salah satu di antara mereka. rasanya senag sekali.

Hingga suatu pagi yang mendung, kabar duka itu menyelimuti kampung kami. beliau yang kaya lagi dermawan itu meninggal dunia. beliau membawa semua kebaikan menghadap allah, dan kami menyimpan kenanagn terbaik bersama beliau. babapk saya cerita, orang-orang bertanya , ” apa yang terjadi dengan mesjid nantinya?

Alhamdulillah, kekhawatiran kami tidak terjadi. masjid tetap makmur dan acara-acara masjid tetap terdanai dengan baik. sebab anak-anak beliau yang melanjutkan bisnis keluraganya, itu juga melanjutkan amalan beliau, memakmurkan masjid. keluarga dan akan-anak keturunan beliau tetap menjadi donatur utama masjid dan bahkan salah satu putra beliau imam masjid. dan tradisi bagi-bagi amplop pada anak-anak pun tetap berjalan lancar. kebaikan beliau tetap terjaga dengan baik samapi sekarang, anak-anaknya yang melanjutkan dan menjaganya.

Baca juga:  Anjuran Menyambut Buah Hati menurut Rasulullah

Sungguh ada ibrah yang kita dapatkan dari keluarga mereka, bahwa janagan samapi setelah ayah meniggal, lantas terputus amal kebaikan yang selama ini sudah dipelihara dengan baik. Bisalah kita menyebutnya sebagai para penjaga rantai kebaiakan. Kita semua adalah para penjaga rantai kebaikan. sebagai penutup pembahsan pada artikel ini marilah kita renugkan pesan Allah s.w.t kepada kita dalam surat an-nahl ayat 92 ini:

                                                                                                                                                                                                  (وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّتِیۡ نَقَضَتۡ غَزۡلَہَا مِنۡۢ بَعۡدِ قُوَّۃٍ اَنۡکَاثًا)

”dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali” (Qs an -nahl ayat 92).

Dapatkan info terbaru dari Bacapos.com via email. Masukkan email anda

Bagikan :
Share on facebook
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email

Tulis komentar

scroll to top

Bacapos

Dapatkan informasi terbaru via email

Jangan lewatkan informasi terbaru lainnya dari Bacapos.com