Peran Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Pandemi

Peran Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Pandemi
Peran Tokoh Masyarakat Dalam Menangani Pandemi

PERAN TOKOH AGAMA DALAM MENANGANI PANDEMI – Sekarang muncul krisis yang lebih dahsyat dan mematikan karena berskala global, penyebaran pertamanya diduga dari wuhan cina pada Desember 2019 dan dalam waktu singkat dapat menyebar keseluruh dunia termasuk Indonesia. Virus yang menyebar begitu cepat ini mempengaruhi banyak hal baik sosial, budaya, agama, ekonomi, hingga  pendidikan. Pada April 2020 pemerintah mengeluarkan peraturan PSBB, WFH, hingga mempromosikan untuk selalu taat protokol kesehatan untuk menekan penyebaran virus ini.

Peraturan pemerintah yang dibuat berdasarkan panduan dari WHO ada yang bertabrakan langsung dengan basis ajaran, kepercayaan, dan keimanan agama dan  aturan peribadatan umat beragama dan umunya seperti shalat berjamaah di masjid yang harus berjarak bahkan dibatasi jamaah yang hadir, ibadah haji / umroh di Makkah yang ditutup oleh pemerintah Saudi Arabia, begitu juga dengan agama-agama yang lain juga mengalami  hal yang sama dalam kondisi seperti ini.

Terlebih lagi  dampak peraturan pemerintah ini sangat terasa bagi umat islam pada saat bulan Ramadhan kemarin, shalat tarawih di masjid, shalat idul fitri bisa dilakukan tetapi tidak seperti biasanya yang ramai, tetapi kali ini harus  dengan prokes yang ketat bahkan di daerah tertentu tidak diadakan shalat idul fitri.

Pentingnya Sains Dan Agama

Pada saat pandemi ini dalam peribadatan juga terpengaruh, yang biasanya sholat jamaah di masjid  dengan adanya pandemic ini dibatasi atau dilarang, sehingga menimbulkan reaksi dimana dalam kegiatan agama dilarang sedangkan mall dibuka, pasar diperbolehkan dan lain sebagainya yang akhirnya sebagian orang berpendapat bahwa agama tidak penting karena lebih mementingkan hal  perekonomian, dan jika ini terus terjadi maka akibat  paling fatal akan terjadi pembangkangan sipil dimana masyarakat sudah tidak percaya  lagi dengan peraturan yang dibuat atau bahkan tidak percaya dengan covid.

Baca juga:  Cara Membayar Puasa Kafarat Dengan Benar

Disisi lain sains dengan teknologi canggihnya tidak bisa berbuat banyak  dengan adanya pandemic ini, kepercayaan diri sains seakan-akan hilang. Yang dibutuhkan disini bukan hanya melalui pendekatan sains tetapi juga tidak bisa mengandalkan pendekatan agama, keduanya harus saling melengkapi dalam kondisi pandemic seperti ini.

Selain itu dengan pendekatan budaya juga penting, berbeda pandangan juga akan berbeda dalam menangani. Banyak penelitian, tetapi agama sama sekali tidak disinggung, tetapi agama ini sangat berpengaruh dalam kehidupan, bahkan dalam kesehatan. Tetapi kembali lagi bahwa kurangnya mereka dalam menyinggung agama. Pemerintah menggencarkan untuk selalu prokes, tetapi tanpa  ada  tokoh yang mencontohkan lalu bagaimana masyarakat bisa percaya atau taat ke peraturan.

Isu-Isu Agama

Isu agama muncul awal-awal karena ada kelompok syiah  yang dari iran ke mashad hingga pergi keliling ke timur tengah, di korea selatan asalnya dari salah satu gereja di sana, di asia tenggara sekitar 14 ribu yang ikut jamaah tabligh di  Malaysia , itu yang dianggap sebagai penyebabnya.

Selain itu  upacara pemakaman juga dilarang, karena dalam upacara itu ada yang menyebabkan kerumunan (Eropa), dalam penelitian ternyata orang yang meninggal karena covid dinyatakan yang paling tinggi dari  kaum muslim, sementara orang yang tidak beragama datanya paling rendah, sehingga muncul pertanyaan bahwa agama adalah masalah dalam pandemic ini ?. tetapi adanya banyak sumbangan positive dalam pandemic, agama sering dipakai dalam membantu mereduksi penyebaran covid ini, contoh kasus polio, di india dan Pakistan, yang banyak terkena penyakit ini adalah anak yang tinggal dikomunitas muslim miskin karena tidak mau divaksin, ketika itu negara meminta kepada tokoh-tokoh muslim untuk mengampanyekan vaksinasi dan hasilnya bahwa mereka yang tadinya tidak mau divaksin akhirnya bersedia.

Baca juga:  Cara Mengatasi Stres Menurut Islam Wajib Diamalkan

Selain itu juga dalam kasus HIV bahwa mereka mendapat stigma yang buruk, dan disini diperlukan tokoh agama untuk mengurangi stigma ini. Ebola yang ada di afrika hampir sama dengan covid, bagaimana bahayanya virus ini, kebanyakan tertular karena pemakaman, sehinngga  kembali lagi tokoh agamawan dibutukan untuk mempromosikan kesehatan lewar aspek agama, budaya, dan lain sebagainya.

Begitu mereka dilibatkan dalam penanganan virus ebola, akhirnya virus ini dapat diatasi, pimpinan agama bukan hanya digunakan pada saat kegiatan agama, tetapi mereka dapat dilibatkan dalam hal seperti ini karena mereka mempunyai kapasitas.

Banyak orang yang terkena covid tidak mau berobat atau tidak mau divaksin maka kita / tokoh agama bisa dengan menunjukkan atau memberi tahu  mereka dengan ayat al-quran atau dengan memberi pengertiann bahwa jika seorang muslim terkena penyakit maka diwajibkan untuk mencari pengobatan. Tidak boleh bersalaman, di al-quran atau hadits pun sudah dijelaskan karena untuk mengurangi penularan. Karena dapat menularkan melalui kontak tubuh, sebenarnya larangan-larangan / anjuran prokes ini sudah ada dalam al-quran atau hadits.

Di Indonesia banyak kasus ada pencurian mayat, mungkin disini pemakamannya mereka khawatir bahwa pemakamannya tidak manusiawi dan ada yang berpendapat tidak ada ajarannya dalam agama, di Indonesia pemakaman tidak boleh dihadiri kecuali tenaga medis, disini perlu direvisi bahwa tokoh agama dan keluarga boleh hadir sehingga tradisi islam atau Kristen mulai kembali bisa dilakukan.

Baca juga:  Menjadikan Puasa Sebagai Gaya Hidup Sehat Zaman ‘Now’

Ormas Islam sudah berpartisipasi dalam pencegahan penyebaran COVID-19. Majelis Ulama Indonesia, NU dan Muhammadiyah telah membuat peraturan/ ketentuan pemerintah dalam memberlakukan PSBB, dan menyosialisasikan masalah COVID-19. Beberapa kegiatan keagamaan, seperti sholat berjamaah dianjurkan untuk sholat dirumah.

Dasar adalah untuk melarang masyarakat untuk berkerumunn bukan melarang orang untuk melalaikan ibadah, dan lebih mengutamakan keselamatan bersama. Anjuran stay at home adalah bagian dari ikhtiar. Paling tidak agama memberikan rasa nyaman dalam situasi ini. Antara sains dan agama yang terpenting adalah saling interkoneksi satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

scroll to top

Bacapos

Dapatkan informasi terbaru via email

Jangan lewatkan informasi terbaru lainnya dari Bacapos.com